Pelajar pancasila cinta indonesia pada masa pengenalan lingkungan sekolah - Suara Pendidikan Jawa Barat

Pelajar pancasila cinta indonesia pada masa pengenalan lingkungan sekolah

BANDUNG, DISDIK JABAR - Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim saat meluncurkan program "Merdeka Belajar Episode 5 : Guru Penggerak" menyebutkan bahwa guru penggerak sebagai pendorong transformasi pendidikan Indonesia, diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang murid secara holistik sehingga menjadi "Pelajar Pancasila". Menjadi pelatih atau mentor bagi guru lainnya untuk pembelajaran yang berpusat pada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan.

Menurut wahyu pari dunda (komunitas cinta indonesia/KACI) Pelajar Pancasila adalah sebuah pesan yang harus dijelaskan secara komprehensif sehingga dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat tentang Pelajar Pancasila. Momentum yang tepat memahamkan dan sosialisasi tentang "Pelajar Pancasila" adalah saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) siswa baru. Memahami nilai-nilai butir Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diketahui dan diimplementasikan oleh masyarakat, khususnya pelajar Indonesia.

Butir-butir Pancasila:

(1). Ketuhanan Yang Maha Esa 

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama yang berbeda. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama. Agama dan kepercayaan adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan sikap saling menghormati dalam kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

(2). Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya. Mengembangkan sikap saling mencintai, tenggang rasa, dan tepa salira sesama manusia. Tidak semena-mena terhadap orang lain dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Berani membela kebenaran dan keadilan. Mengembangkan sikap menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

(3). Persatuan Indonesia

Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, dan kepentingan serta keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. Mengembangkan rasa bangga berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

(4). Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Warga negara dan masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah, dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. Dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai hati nurani yang luhur. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai melaksanakan permusyawaratan.

(5). Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan serta mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menghormati hak orang lain. Suka menolong, tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. Suka bekerja keras, menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Seringkali, pernyataan di tiap sila dianggap terlalu abstrak oleh masyarakat. Wajar saja karena Pancasila terdiri dari penyataaan yang kental muatan filosofis dan ideologis. Untuk memahami secara lebih praktis, kelima sila tersebut perlu diturunkan ke dalam butir-butir. Turunan ke dalam butir-butir Pancasila adalah cara untuk membantu memahami saja. Pada hakikatnya sudah jelas bahwa Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang harus terus dihidupkan oleh seluruh warga negara. 

Dengan memahami butir-butir Pancasila, diharapkan kepala sekolah dan guru dapat menumbuhkan serta membentuk karakter siswa yang nasionalis dan cinta Indonesia.***

(Sumber Kemendikbud dan Badan Pembinaan Hukum Nasional)

0 Komentar untuk "Pelajar pancasila cinta indonesia pada masa pengenalan lingkungan sekolah "

Pengunjung

Back To Top